Tips amankan system dengan Acronis True Image

Repot rasanya jika system komputer sering rusak (hang/lemot), dan jika itu terjadi pada komputer dalam jumlah banyak dan ekstra sibuk digunakan secara bergantian terus menerus setiap harinya.

Kebanyakan kerusakan diakibatkan oleh virus komputer, trojan atau bug-bug lain yang sengaja merusak system. Walaupun teknologi sudah canggih virus sudah bisa dihilangkan tapi tetap saja jika jumlah komputernya cukup banyak yang harus diurus tentunya lumayan merepotkan.

Banyak software-software yang membantu dalam penanganan masalah ini namun ada software yang lebih powerfull untuk digunakan yaitu Acronis True Image dengan cara mengembalikan system yang lama yang masih bersih tanpa harus melakukan install ulang OSnya.

Untuk memulainya, terlebih dahulu Install Acronis True Image sehingga jika dijalankan tampil seperti dibawah ini:

menu_acronistrueimage
Tampilan, menu

1—————————–CREATE STARTUP RECOVERY—————————

Activate Acronis Startup Recovery Manager

Activate Acronis Startup Recovery Manager memudahkan anda untuk melakukan restore. Booting ini dilakukan sebelum windows berjalan yaitu dengan menampilkan perintah F11 sebagai tombol untuk masuk ke Acronis.

Untuk melakukannya.
♪ Jalankan Program Acronis True Image
♪ Klik Activate Acronis Startup Recovery Manager di menu sebelah kiri
♪ Klik Next
♪ Klik Proceed

2——————————–CREATE IMAGE————————————-

Create Image
Yaitu buat Image dengan membackup seluruh drive C atau D (untuk system pastinya drive C ).

Image bisa disimpan di drive D berbentuk file berukuran besar. Jika file tersebut hendak direstore tinggal browse saja dimana file tersebut berada. Ataupun bisa juga di Secure Zone (untuk lebih aman simpan di Secure Zone)namun harus dibuat dalulu lokasi untuk penyimpanannya.
Anda dapat memilih salah satu dari cara dibawah!

Cara 1. Buat file image disimpan di drive D
Caranya:
┼ Klik icon Create Image
┼ Pilih drive yang akan diimage kan, yang pasti disini adalah drive C
┼ Pilih lokasi penyimpanan dan tentunya ke drive D atau E di folder ataupun langsung ketikkan nama file Imagenya.
contoh:
File name: D:\Source\25042009.tib
┼ Pilih Create the full backup image archive
┼ di Image Archive Splitting pilih Automatic
┼ di Compression Level pilih salah satu dari Normal, High dan Maximum tergantung tingkat kompressinya (dapat dilihat di Description pada bagian bawah tentang ukuran besar kecilnya kompressi)
┼ Klik Proceed tunggu hingga system selesai membuat file imagenya.

Cara 2. Buat image di Secure Zone
Caranya:
Klik Manage Acronis Secure Zone pada menu Tools bagian sebelah kiri.
┼ Pilih Increase Size
┼ Pilih Drive D untuk diresize
┼ Tentukan Space yang memuat kapasitas drive C
┼ Klik Proceed tunggu hingga selesai system melakukan resize

3——————————–RESTORE IMAGE————————————

Restore Image
Dilakukan jika system komputer kita rusak dan akan direpair.
Image yang pernah dibuat dan disimpan di drive D atau secure Zone saatnya di gunakan.

Cara Restore Image :
Klik icon Restore Image
Pilih Acronis Secure Zone atau Lokasi file

Contoh: mouse diarahkan ke—-> D:\Source\25042009.tib
(Contoh disini dicoba dengan menggunakan Acronis Secure Zone).
image_archive_selection

Pilih No, I do not want to verify
Centang atau Checklis drive C –> Next
Klik drive C lagi
Akhiri dengan mengklik tombol Reboot
Tunggu hingga prosesnya selesai…
———————————–ATTENTIONS!!! ———————————
* Lebih aman jika dicoba pada Harddisk yang tidak menyimpan data penting.
* Biasakanlah menyimpan data di drive D atau selain drive C karena partisi C khusus untuk system yang sewaktu-waktu akan ditimpa.
* Hati-hati dalam penggunaan system ini karena sedikit kesalahan bukannya akan meringankan pekerjaan anda tapi bisa berakibat fatal.
* Mestinya perlu benar-benar teliti dan mengenal bagian-bagian partisi harddisk sebelum melakukannya.
* Pastikan posisi haddisk Primary atau Secondary masterkah posisinya!!! jika melakukan Cloning antar Harddisk untuk menghindari salah timpa.


Portable Windows VISTA – USB/CD Edition | 120 Mb

windows vista Bagi yang ingin mencoba memakai Windows Vista bisa menggunakan versi portable ini, karena dilihat dari segi ukuran dan cara pakainya tidak terlalu dipersulit dengan menginstal program Windows Vista ...


jika tertarik pada program ini anda dapat menginstal yang asLinya, tetapi alangkah baiknya anda mencoba untuk sedikit berfikir bagaimana jika anda tidak menyukainya?? apakah anda harus mengUninstal computer lagi..?? berarti anda harus meluangkan banyak waktu bukan ... Oleh karena itu saya sarankan untuk mencoba yang portable saja terlebih dahulu... jadi dari yang portable anda bisa mengetahui kelebihan dan kekurangan dari program tersebut. silahkan di download saja sendiri pada mbah GoogLe ...
Semoga bermanfaat

Instalasi dan Konfigurasi VSAT

VSAT IP adalah layanan last mile pelanggan dan backbone internal IM2 dengan memanfaatkan teknologi VSAT IP DVB RCS. Sistem ini dibangun berbasiskan produk NERA dari Norwegia dengan alokasi frekuensi C Band. Layanan ini memungkinkan untuk dijadikan sebagai last mile untuk aplikasi : transfer data, voice (VoIP) dan VPN. Khusus layanan non VPN dapat dilengkapi dengan fitur penunjang yaitu TCP accelerator system client server dan TCP accelerator system proxy (gateway).
Kalau mau tau lebih banyak lagi tentang Instalasinya ikutin terus tulisan ini.


Merakit Antena:

1. Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah memeriksa kelengkapan pendukung reflektor/dish antena, seperti Pedestal, baut-baut, feedhorn dan LNB.
2. Apabila di lokasi tersebut berupa tanah maka buatlah pondasi sesuai ukuran pedestal yang telah ditetapkan (ukuran standart 2m x 2m).
3. Penggabungan antar segmen pedestal, reflektor, feed horn serta LNB harus benar-benar terpasang dengan baik dan kencang, usahakan tidak ada baut-baut yang kendor atau tidak terpasang.
4. Perakitan Pedestal / boom antena harus tegak lurus ( 90 derajat ) dengan garis horizontal bumi, gunakan water pass / angle meter untuk levelingnya, tujuannya agar pada saat pointing diperoleh kemiringan reflektor yang akan optimal.
5. Setelah antena terakit dengan benar, persiapkan satu kabel RF pendek dan hubungkan antara LNB ke perangkat spectrum analizer atau satellite finder. Tentukan arah polarisasi pada feedhorn sesuai dengan transponder yang akan kita gunakan, dalam hal ini transponder 4H dengan polarisasi horizontal.
6. Tentukan frekuensi dan transponder di Satellite yang akan kita cari, dalam hal ini Satellite Palapa C2 transponder 4H dengan center frekuensinya FWD RF=3,840Ghz / Lband=1298Mhz dengan simbol rate 8.7 Msps.

Pointing

1. Sebelum melakukan pointing, harus diketahui terlebih dahulu posisi sudut azimut dan sudut elevasi untuk satellit yang akan digunakan / diterima pada suatu daerah dimana stasiun bumi / VSAT akan didirikan.
2. Langkah pertama dalam melakukan pointing adalah dengan menentukan sudut azimut reflektor secara kasar dengan menggunakan kompas. Arah 0 derajat dimulai dari arah utara, kemudian ke arah timur adalah positif dan bila ke arah barat adalah negatif.
3. Langkah pertama dalam melakukan pointing adalah dengan menentukan sudut azimut reflektor secara kasar dengan menggunakan kompas. Arah 0 derajat dimulai dari arah utara, kemudian ke arah timur adalah positif dan bila ke arah barat adalah negatif.
4. Selanjutnya adalah melakukan pointing receive dan transmit. Untuk melakukan pointing halus, dibutuhkan peralatan sebagai berikut :
(Spektrum analyzer atau Satellite Finder, DC blok dengan catu daya, LNB dan BUC, Kabel pointing, Terminal Nera/modem)
5. Keluaran dari LNB dihubungkan melalui kabel pointing ke DC blok dan dari DC blok dihubungkan ke Spektrum analyzer.
”Perhatikan ; konektor F type dengan tegangan V= + 18 Vdc ke arah LNB dan konektor N type tanpa tegangan V=0 volt ke arah Spektrum analyzer. Apabila menggunakan satellite finder, hubungkan keluaran LNB ke Satellite finder dengan konektor F type ( satellite finder sudah mensuplai tegangan dc 13/18V”.
6. Kemudian lakukan pointing receive untuk mengarahkan antena ke satelit, caranya dengan memutar azimut dan elevasi secara perlahan hingga diperoleh sinyal dari satelit yang dicari, langkah yang tepat adalah putar sudut elevasi setelah mendapat sinyal hingga maximum kencangkan baut elevasi kemudian putar sudut azimut setelah mendapat sinyal maksimum kencangkan baut azimut kemudian putar polarisasi feedhorn hingga mendapat sinyal yang maksimum, langkah tadi dilakukan secara berulang-ulang hingga diperoleh sinyal receive yang paling maksimum.

Crosspole

1. Hubungkan input BUC pada feedhorn melalui kabel transmit ke peralatan Terminal Nera pada keluaran yang berlabel TX, kemudian hubungkan output LNB melalui kabel receive ke input Terminal berlabel RX.
2. Selanjutnya hidupkan perangkat Terminal Nera, untuk menerima sinyal dari satellite di transponder yang telah ditentukan. Untuk melihat SNR di terminal gunakan perintah dvb rx show.
3. Lakukan crosspole dengan Pure carrier / CW sesuai dengan frekuensi dan petunjuk dari NCC PT.Indosat. Untuk melakukan CW dari terminal gunakan perintah dvb tx cw on (level tx) (freq).
4. Kencangkan baut-baut azimut, elevasi dan feedhorn setelah diperoleh crosspole dengan hasil yang sesuai dengan rekomendasi NCC PT.Indosat dan mintalah printout hasil crosspole tersebut dari NCC PT.Indosat.
5. Gunakan sealant / 3m tape untuk membungkus konektor f type di BUC dan LNB agar tidak kemasukan air pada saat hujan.

Konfigurasi terminal dengan Command Line Interface

Command Line Interface dapat diakses melalui telnet atau port RS323. Dalam hal ini parameter
penting yang harus dilakukan yaitu :

1. Start up Sequence
Pada saat terminal di hidupkan (turn on), maka Boot SW akan melakukan proses start up. Dan selanjutnya aplikasi DVB RCS akan meng-inisialisasi file system, dan merestore semuan parameter konfigurasi terminal, melakukan inisialisasi konfigurasi, dan receive transmit signal untuk logon ke gateway (apabila di set autostart). Selanjutnya system akan meminta memasukkan usename dan password (Username: root, password: near / balder1)
2. Konfigurasi IP
Ada dua Ip yang harus di set up di terminal DVB RCS, yaitu IP LAN (eth) dan IP SNMP (DVB). Caranya yaitu :
a. Set IP LAN (eth)
# ip set
contoh : # ip set 1 219.83.112.161 255.255.255.248
b. Set IP SNMP (dvb)
# ip set
contoh : # ip set 3 10.10.40.30 255.255.255.248
Setelah itu save konfigurasi dengan menggunakan command #save config Dan untuk melihat hasil konfigurasi ip yg sudah di set dapat menggunakan command #ip show.
3. Parameter Forward Link
Paremeter ini di gunakan untuk mengidentifikasi forward link yang di transmitdari gateway. Diantaranya adalah :
a. Set Symbol rate : dvb rx symbrate (dalam symbols per sec)
b. Set Frekwensi : dvb rx freq (dalam KHz)
Contoh :
# dvb rx symbrate 28000000 (artinya set symb rate 28 Msps)
# dvb rx freq 3840000 (artinya set frek 2840 MHz)
# save config
# dvb rx show
4. Out Door Unit Parameter
Parameter ini digunakan untuk mengkonfigurasi ODU yang di gunakan. Dalam hal ini command yang di gunakan adalah sebagai berikut :
# odu antenna 5
# odu lnb 80
# odu txtype 81
# odu txlo 4900 (artinya set local oscilator BUC pada 4900 MHz)
# odu lnbdc 1 (untuk mengaktifkan tegangan dc pada RX terminal, 0=off, 1=on)
# odu txdc 1 (untuk mengaktifkan tegangan dc pada TX terminal, 0=off, 1=on)
# save config
5. Posisi Terminal
Parameter ini didapat dengan menggunakan GPS (Global Positioning system) pada saat instalasi, parameter ini menggambarkan posisi terminal (antenna) yang sedang di instalasi. Dalam hal ini command yang di gunakan adalah :
# dvb pos alt
Dimana height adalah ketinggian dari permukaan laut (meter).
# dvb pos lat 7 19 17 1
# dvb pos long 11 29 85 0
# dvb pos alt 571
# save config
# dvb pos show